ANTIKONVULSI


PENGERTIAN
Antikonvulsan adalah obat yang digunakan untuk mengembalikan kestabilan rangsangan sel saraf sehingga dapat mencegah atau mengatasi kejang. Antikonvulsan merupakan golongan obat yang identik dan sering hanya digunakan pada kasus-kasus kejang karena epilepsi.


MEKANISME KERJA
Mekanisme kerja obat antikonvulsan atau anti-epileptika dapat dijelaskan berdasarkan 2 pripsip:
1. Prinsip pertama
Berdasarkan pemblokiran terhadap transport elektrokimia oleh saluran-saluran ion natrium atau kalsium (Tjay dan Rahardja, 2015).
2. Prinsip Kedua
Peningkatan penghambatan dari neurotransmitter GABA, atau penurunan transmisi glutamat (Tjay dan Rahardja, 2015).


INDIKASI DAN CONTOH OBAT
Cara kerja antiepileptika belum semuanya jelas, namun dari sejumlah obat terdapat indikasi mengenai mekanisme kerjanya, yaitu:
1. Memperkuat efek GABA
Contoh:
· Valproat
· Vigabratin
· Topiramat
· Lamotrigin
· Fenobarbital

2. Menghambat kerjanya aspartat dan glutamat
Contoh:
· Lamotrigin
· Valproat
· Karbamazepin
· Fenitoin

3. Memblokir saluran-saluran (channels) Na, K dan Ca yang berperan penting pada timbul dan perbanyakan muatan listrik
Contoh:
· Etosuksimida
· Valproat
· Karbamazepin
· Okskarbazepin
· Fenitoin
· Lamotrigin
· Pregabalin
· Topiramat

4. Meningkatkan ambang-serangan dengan jalan menstabilkan membrane sel.
Contoh:
· Felbamat
· Dll.
(Tjay dan Rahardja, 2015)



GOLONGAN OBAT ANTIKONVULSI
1. Golongan obat generasi pertama:
· Barbital
Contoh: fenobarbital, mefobarbital
· Hidantoin
· Suksinimida
Contoh: etosuksimida, mesuksimida
· Lainnya: asam valproat, diazepam, klonazepam, karbamazepin, okskarbazepin

2. Golongan obat generasi kedua:
· Vigabatrin
· Lamotrigin
· Gabapentin (Neurontin)
· Felbamat
· Topiramat
· Pregabaline
(Tjay dan Rahardja, 2015)


EFEK SAMPING
1. Golongan barbiturate
Efek samping: efek sedatif
2. Golongan hidantoin
Efek samping: gangguan susunan saraf pusat, saluran cerna, gusi, kulit dan lain-lain
3. Golongan suksinimid
 Efek samping: mual, sakit kepala, ngantuk dan ruampada kulit.
4. Golongan asam valproate
Efek samping: mual, muntah, anoreksia, peningkatan berat badan, pusing, gangguan keseimbangan dan kebotakan.
5. Golongan Karbamazepin
Efek samping: pusing, vertigo, penglihatan kabur dan lain-lain
6. Golongan oksazolidindion (Trimetadion)
Efek samping: gangguan pada kulit, fungsi ginjal dan hati
7. Golongan benzodiazepin 
Efek samping: pusing, mengantuk, dan lain-lain
8. Golongan Gabapentin (Pregabalin)
Efek samping: efek sedasi. 





DAFTAR PUSTAKA
Tjay, T. H dan K. Rahardja. 2015. Obat-Obat Penting Edisi 7, Gramedia, Jakarta.




PERMASALAHAN:
1. Bagaimana kerja obat antikonvulsan berdasarkan penggolongannya (generasinya) tersebut di atas dalam mengobati kejang?
2. Selain mengatasi kejang, apakah obat antikonvulsan juga dapat mengatasi nyeri? Bagaimana hal tersebut bisa terjadi?
3. Pada indikasi di atas, suatu obat yang memiliki lebih dari satu indikasi dalam pengobatan kejang. Mengapa hal tersebut bisa dan terjadi?












Comments

Jawaban nomor 2: Ya, selain mengatasi kejang, obat antikonvulsan juga dapat digunakan untuk meredakan nyeri. Hal ini berlaku hanya untuk nyeri akibat gangguan saraf (neuropati) atau mengobati gangguan bipolar. Saraf-saraf dalam sel otak saling berkomunikasi melalui sinyal listrik, sehingga dapat memerintahkan tubuh untuk bergerak atau bertindak. Pada kondisi kejang, jumlah rangsangan sinyal listrik saraf melebihi batas normal sehingga nyeri pun bisa terjadi. Dengan adanya obat antikonvulsan dapat mengembalikan kestabilan rangsangan sel saraf dan nyeripun dapat reda.
Ririn Yosmarina said…
Hai Kristin. Saya akan mencoba menjawab permasalahan nomor 1 berdasarkan pengetahuan saya: kerjanya yaitu menghambat perangsangan pada semua bagian SSP sehingga menghambat terjadinya kejang. Prinsip pertama penting untuk mencegah timbulnya letupan depolarisasi eksesif pada neuron dan fokus epilepsi. Prinsip kedua penting untuk mencegah terjadinya letupan depolarisasi pada neuron normal akibat pengaruh dari fokus epilepsi. Pemberian obat secara tepat dapat menstabilkan aktivitas listrik dalam otak, serta dapat mengendalikan kejang pada penderita epilepsi.
MayaPasae said…
Hai kristin, saya akan mencoba menjawab permasalahan no 3,
Menurut pengetahuan saya,Saya akan menjawab dengan mengambil contoh sesuai contoh obat pada indikasi di atas. Contoh obatnya yaitu: valproate dengan indikasi: memperkuat efek GABA, menghambat kerjanya aspartat dan glutamate dan memblokir saluran-saluran (channels) Na, K dan Ca yang berperan penting pada timbul dan perbanyakan muatan listrik. Ketiga indikasi ini sebenarnya adalah sejalan sehingga seolah-olah valproate memiliki indikasi kerja yang berbeda yang lebih dari satu. Selain itu valproate merupakan obat antikonvulsi pada epilepsy dengan spectrum luas. Mekanisme kerjanya dalam mengobati kejang/epilepsi yaitu: meningkatkan inaktivasi kanal Na+ sehingga menurunkan kemampuan syaraf untuk menghantarkan muatan listrik
Hai kristin... saya akan mencoba jawab no.1
Mekanisme kerja obat Antikonvulsan ini yang terpenting ada dua, yaitu untuk mencegah timbulnya letupan depolarisasi eksesif pada neuron dan fokus epilepsi serta mencegah terjadinya letupan depolarisasi pada neuron normal akibat pengaruh dari fokus epilepsi.
berniketarigan said…
Mekanisme kerja obat antikonvulsan atau anti-epileptika dapat dijelaskan berdasarkan 2 pripsip:
1. Prinsip pertama
Berdasarkan pemblokiran terhadap transport elektrokimia oleh saluran-saluran ion natrium atau kalsium (Tjay dan Rahardja, 2015).
2. Prinsip Kedua
Peningkatan penghambatan dari neurotransmitter GABA, atau penurunan transmisi glutamat (Tjay dan Rahardja, 2015).

Popular posts from this blog

analgetika

hematologi