hematologi
Hematologi adalah bidang studi
kesehatan yang mempelajari tentang darah dan gangguan darah yang terjadi. Hematologi adalah cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari darah,
organ pembentuk darah dan penyakitnya.
Pemeriksaan panel hematologi (hemogram) terdiri dari leukosit,
eritrosit, hemoglobin, hematokrit, indeks eritrosit dan trombosit (Menkes RI,
2011). Rentang nilai normal hematologi bervariasi pada bayi, anak anak dan
remaja, umumnya lebih tinggi saat lahir dan menurun selama beberapa tahun
kemudian. Pemeriksaan hemostasis dan koagulasi digunakan untuk mendiagnosis dan
memantau pasien dengan perdarahan, gangguan pembekuan darah, cedera
vaskuler atau trauma (Darda, 2016).
1)
Hematokrit (Hct) :
Hematokrit
menunjukan persentase sel darah merah tehadap volume darah total. Nilai normal Hct adalah sekitar 3 kali nilai hemoglobin. Penurunan
nilai Hct merupakan indikator anemia (karena berbagai sebab), reaksi hemolitik,
leukemia, sirosis, kehilangan banyak darah dan hipertiroid. Penurunan Hct sebesar
30% menunjukkan pasien mengalami anemia sedang hingga parah. Peningkatan nilai
Hct dapat terjadi pada eritrositosis, dehidrasi, kerusakan paru-paru kronik,
polisitemia dan syok.
a.
Nilai normal : Pria : 40% - 50 % SI unit : 0,4
- 0,5
b.
Wanita : 35% - 45% SI unit : 0.35 - 0,45
2)
Hemoglobin
Hemoglobin
adalah komponen yang berfungsi sebagai alat transportasi oksigen (O2)
dan karbon dioksida (CO2). Susunan molekul hemoglobin berbentuk
hampir bulat merupakan kromoprotein, yang terdiri atas empat rantai polipeptida
dengan masing-masing satu komponen zat warna yang disebut hem. Nilai Hb
<5,0g/dL adalah kondisi yang dapat memicu gagal jantung dan kematian. Nilai
>20g/dL memicu kapiler clogging sebagai akibat hemokonsenstrasi
a.
Nilai normal : Pria : 13 - 18 g/dL SI unit : 8,1 - 11,2 mmol/L
b.
Wanita: 12 - 16 g/dL SI unit : 7,4 – 9,9
mmol/L
3)
Eritrosit
(Sel Darah Merah)
Eritrosit
berjumlah paling banyak diantara sel-sel darah lainnya. Dalam satu milliliter
darah terdapat kira-kira 4,5 – 6 juta eritrosit. Eritrosit normal
berukuran 6 – 8 Nm atau 80 – 100 fL
(femloliter). Bila MCV kurang dari 80 fL disebut (mikrositik) dan jika lebih dari
100fL disebut (makrositik) (Menkes RI, 2011).
Nilai normal :
a.
Pria : 4,4 - 5,6 x 106 sel/mm3 SI unit : 4,4 - 5,6 x
1012 sel/L
b.
Wanita : 3,8-5,0 x 106 sel/mm3 SI unit : 3,5 - 5,0 x
1012 sel/L
Kekurangan dan Kelebihan
Eritrosit
Akibat eritrosit yang berlebih dan kekurangan
eritrosit :
a.
Kekurangan eritrosit
·
Kehilangan darah (perdarahan)
·
Pasien anemia, infeksi kronis, leukemia
talasemia, hemolisis dan lupus eritematosus sistemik
·
Penurunan fungsi ginjal
·
Dapat juga terjadi karena obat (drug induced
anemia). Misalnya : sitostatika, antiretroviral.
b.
Kelebihan eritrosit
·
Polisitemia vena
·
Hemokonsentrasi
·
Dehidrasi/diare
·
Penyakit kardiovaskuler
·
Olahraga berat
·
Luka bakar
·
Orang yang tinggal di dataran tinggi
Sel darah merah atau disebut juga
eritrosit merupakan sel darah yang jumlahnya terbanyak dalam tubuh manusia.
Jumlah sel darah merah dapat memberikan informasi yang mengindikasikan adanya
gangguan hematologi.
Gangguan hematologi adalah
gangguan pada pembentukan sel darah merah, meliputi penurunan dan peningkatan
jumlah sel (polisitemia). Penurunan jumlah sel darah merah ditemukan pada
penyakit kronis, seperti penyakit hati, anemia dan leukemia, sedangkan
polisitemia ditemukan pada penderita diare, dehidrasi berat, luka bakar, maupun
pendarahan berat.
Penghitungan sel darah merah
dilakukan dalam proses diagnosis beberapa penyakit tersebut. Penghitungan sel
darah merah di laboratorium dapat dilakukan secara manual, menggunakan
hemocytometer dan mikroskop, atau menggunakan mesin hematology analyzer
(Prakarsa dan Kurniawan, 2015).
Contoh penyakit: anemia, hipertensi,
tromboemboli, hemophilia (darah sukar membeku), dll.
Contoh Kasus:
Pasien wanita 50 tahun datang menemui dokter
dan mengeluhkan lelah, sesak nafas, kaki dan pergelangan kakinya bengkak dan
membran mukosanya pucat. Dari hasil pemeriksaan fisik terlihat bahwa kuku
pasien berbentuk sendok.
Setelah dilakukan pemeriksaan laboratorium
diperoleh hasil sebagai berikut :
ü Eritrosit
(RBC) 3x109/L 3,8-5,0 x 106 sel/mm3
ü Leukosit
(WBC) 4x109/L 3200 – 10.000/mm3
ü Hemoglobin
(Hb) 7 g/dL Wanita : 12 - 16 g/dL
ü MCV 70 fL
Nilai normal : 80 – 100 (fL)
Berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium
ini, dokter mendiagnosa pasien ini mengalami anemia difisiensi besi. Karena nilai MVC dan Hb pasien yang rendah.
DAFTAR PUSTAKA
Darda,A. 2016. Pendidikan Sains Berbasis Agama
untuk Membangun Hidup Sehat. Jurnal Universitas Darussalam Gontor Indonesia.Vol
1 (1) : 246.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2011.
Pedoman Interpretasi Data Klinik,
Kementerian, Jakarta.
Prakarsa dan Kurniawan. 2015. Identifikasi
Sel Darah Merah Bertumpuk Menggunakan Pohon Keputusan Fuzzy Berbasis Gini
Index. Jurnal Buana Informatika. Vol
6 (1) : 51.
PERMASALAHAN:
1.
Bagaimana
upaya-upaya dalam penanggulangan anemia?
2.
Bagaimana
penatalaksanaan pasien pada contoh kasus anemia di atas?
3.
Pada
manusia terdapat faktor pembekuan darah yang mempercepat penutupan luka pada
saat terjadi luka/trombosit pecah, lalu mengapa seseorang bisa mengidap
penyakit hemofilia yang menyebabkan darah sukar membeku?
Comments
dan ikan karena mempunyai ketersediaan biologik yang tinggi
Pangan hewani seperti daging sapi, daging unggas, dan ikan memiliki Meat,
Fish, Poultry Factor (MFP Factor) yang dapat meningkatkan penyerapan besi.
Hasil pencernaan ketiga pangan tersebut menghasilkan asam amino cysteine sekian kristin
tingkat sitokin pirogen yang diproduksi untuk mengatasi berbagai rangsang(analgetik kek nyeri)
misalnya terhadap toksin bakteri, peradangan, dan rangsang pirogenik lain.sebagai respons terhadap rangsangan pirogenik,maka monosit, makrofag, dan sel-sel
Kupffer mengeluarkan suatu zat kimia yang dikenal sebagai pirogen endogen (IL-1,
TNFα, IL-6 dan interferon) yang bekerja pada pusat termoregulasi hipotalamus untuk
meningkatkan patokan termostat. Hipotalamus mempertahankan suhu di titik patokan
yang baru dan bukan di suhu tubuh normal. Sebagai contoh, pirogen endogen.
meningkatkan titik patokan menjadi 38,9 0C, hipotalamus merasa bahwa suhu normal
prademam sebesar 37 0C terlalu dingin, dan organ ini memicu mekanisme-
mekanisme respon dingin untuk meningkatkan suhu tubuh. Trimah ksh
pada kulit bisa intesitas tinggi maupun rendah
seperti perennggangan dan suhu serta oleh lesi
jaringan. Sel yang mengalami nekrotik akan
merilis K + dan protein intraseluler . Peningkatan
kadar K + ekstraseluler akan menyebabkan
depolarisasi nociceptor, sedangkan protein pada
beberapa keadaan akan menginfiltrasi
mikroorganisme sehingga menyebabkan peradangan
/ inflamasi. Akibatnya, mediator nyeri dilepaskan
seperti leukotrien, prostaglandin E2, dan histamin
yang akan merangasng nosiseptor sehingga
rangsangan berbahaya dan tidak berbahaya dapat
menyebabkan nyeri (hiperalgesia atau allodynia).
Selain itu lesi juga mengaktifkan faktor pembekuan
darah sehingga bradikinin dan serotonin akan
terstimulasi dan merangsang nosiseptor. Jika terjadi
oklusi pembuluh darah maka akan terjadi iskemia
yang akan menyebabkan akumulasi K +
ekstraseluler dan H + yang selanjutnya
mengaktifkan nosiseptor. Histamin, bradikinin, dan
prostaglandin E2 memiliki efek vasodilator dan
meningkatkan permeabilitas pembuluh darah. Hal
ini menyebabkan edema lokal, tekanan jaringan
meningkat dan juga terjadi Perangsangan nosisepto.
Bila nosiseptor terangsang maka mereka
melepaskan substansi peptida P (SP) dan kalsitonin
gen terkait peptida (CGRP), yang akan merangsang
proses inflamasi dan juga menghasilkan vasodilatasi
dan meningkatkan permeabilitas pembuluh darah.
Vasokonstriksi (oleh serotonin), diikuti oleh
vasodilatasi, mungkin juga bertanggung jawab untuk
serangan migrain . Peransangan nosiseptor inilah
yang menyebabkan nyeri. (Silbernagl & Lang,
2000)
Berikan besi per oral untuk menggantikan dan memulihkan simpanan besi tubuh. Sebaiknya diberikan sampai MVC dan Hb mencapai nilai normal, kemudian dilanjutkan selama 3 bulan lagi untuk mencapai simpanan besi yang memadai. Untuk dosis pengobatan yang digunakan adalah 2-4x300 mg/hari dan untuk pencegahan 300 mg/hari.
Hemofilia merupakan penyakit bawaan yang umumnya dialami pria. Penyakit ini dapat diturunkan karena mutasi gen yang mengakibatkan perubahan dalam untaian DNA (kromosom) sehingga membuat proses dalam tubuh tidak berjalan dengan normal. Mutasi gen ini dapat berasal dari ayah, ibu, atau kedua orang tua. Tingkat keparahan yang dialami penderita hemofilia tergantung dari jumlah faktor pembekuan dalam darah. Semakin sedikit jumlah faktor pembekuan darah, semakin parah hemofilia yang diderita
Secara lahiriah atau secara normalnya memang setiap manusia memiliki faktor pembekuan darah untuk membuat darah segera membeku ketika terjadi luka/trombosis pecah namun lain hal untuk kasus hemofilia, dimana penyakit ini adalah penyakit genetik dimana terdapat mutasi gen yang menyebabkan tubuh kekurangan faktor pembekuan tertentu dalam darah.
pada kulit bisa intesitas tinggi maupun rendah
seperti perennggangan dan suhu serta oleh lesi
jaringan. Sel yang mengalami nekrotik akan
merilis K + dan protein intraseluler . Peningkatan
kadar K + ekstraseluler akan menyebabkan
depolarisasi nociceptor, sedangkan protein pada
beberapa keadaan akan menginfiltrasi
mikroorganisme sehingga menyebabkan peradangan
/ inflamasi. Akibatnya, mediator nyeri dilepaskan
seperti leukotrien, prostaglandin E2, dan histamin
yang akan merangasng nosiseptor sehingga
rangsangan berbahaya dan tidak berbahaya dapat
menyebabkan nyeri (hiperalgesia atau allodynia).
Selain itu lesi juga mengaktifkan faktor pembekuan
darah sehingga bradikinin dan serotonin akan
terstimulasi dan merangsang nosiseptor. Jika terjadi
oklusi pembuluh darah maka akan terjadi iskemia
yang akan menyebabkan akumulasi K +
ekstraseluler dan H + yang selanjutnya
mengaktifkan nosiseptor. Histamin, bradikinin, dan
prostaglandin E2 memiliki efek vasodilator dan
meningkatkan permeabilitas pembuluh darah. Hal
ini menyebabkan edema lokal, tekanan jaringan
meningkat dan juga terjadi Perangsangan nosisepto.
Bila nosiseptor terangsang maka mereka
melepaskan substansi peptida P (SP) dan kalsitonin
gen terkait peptida (CGRP), yang akan merangsang
proses inflamasi dan juga menghasilkan vasodilatasi
dan meningkatkan permeabilitas pembuluh darah.
Vasokonstriksi (oleh serotonin), diikuti oleh
vasodilatasi, mungkin juga bertanggung jawab untuk
serangan migrain . Peransangan nosiseptor inilah
yang menyebabkan nyeri. (Silbernagl & Lang,
2000)
Upaya apa saja untuk mengatasi anemia :
Minum suplemen zat besi, perbanyak makanan yang mengandung zat besi, konsumsi vitamin C dan vitamin B12, dan sebaiknya mengkonsumsi coklat, tahu, maupun probiotik. Selain itu berolahraga secara teratur juga dapat mencegah anemia.
Protein daging dan hati, jantung, kuning telur, ragi, kerang, kacang-kacangan yang berwarna hijau serta biji-bijian..